Apakah Al-Qur’an telah ketinggalan zaman dalam membicarakan Asal Usul Alam Semesta?

Apakah Al-Qur’an telah ketinggalan zaman dalam membicarakan Asal Usul Alam Semesta?

Pembahasan

Arabic text (asal dalam dokumen):

{ فُرُونَْ أئَنَِّكُمْ  قُلْ  ِْ فِْ الأر ضَْ خَلَقَْ بِِلَّذِي لتََك  فِيهَا وَجَعَلَْ (9) ال عَالَمِيَْ رَبْ  ذَلِكَْ أنَ دَادًا لَهُْ وَتََ عَلُونَْ يَ و مَي   
قِهَا مِنْ  رَوَاسِيَْ مْ  أرَ بَ عَةِْ فِْ أقَ  وَاتََاَ فِيهَا وَقَدَّرَْ فِيهَا وَبَِرَكَْ فَ و  تَ وَى ثَُّ (10) للِسَّائلِِيَْ سَوَاءًْ أيََّّ السَّمَاءِْ إِلَْ اس   

نَا قاَلتََا كَر هًا أوَْ  طَو عًا ائِ تِيَا وَلِلأر ضِْ لََاَ فَ قَالَْ دُخَانْ  وَهِيَْ ِْ فِْ سَََوَاتْ  سَب عَْ فَ قَضَاهُنَّْ (11) طاَئعِِيَْ أتََ ي   يَ و مَي   
رَهَا سََاَءْ  كُل ِْ فِْ وَأوَ حَى ن  يَا السَّمَاءَْ وَزَي َّنَّاْ أمَ  دِيرُْ ذَلِكَْ وَحِف ظاًْ بِصََابيِحَْ الد  (12) ال عَلِيمِْ ال عَزيِزِْ تَ ق   } 
  

Katakanlah, "Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada Yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu-sekutu bagi-Nya? demikian itulah Tuhan semesta alam.” Dan Dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanannya dalam empat masa genap, bagi orang-orang yang bertanya. Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi, "Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa.” Keduanya menjawab, "Kami datang dengan suka hati.” Maka Dia menjadikan tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui.

Secara bacaan literarur, seseorang mungkin akan mengambil sebuah isu dari ayat al-qur’an di atas, dengan berargumen bahwa ayat tersebut bertentangan dengan pemahaman terkini mengenai asal-usul alam semesta. Mereka bisa berargumen bahwa ayat ini memutarbalikkan urutan penciptaan yaitu dengan digambarkan bahwa bumi diciptakan sebelum alam semesta.

Pertanyaan demikian bukan sepenuhnya tidak memiliki dasaran, karena pandangan bahwa bumi diciptakan sebelum alam semesta adalah hal yang lumrah di kalangan masyarakat pra-modern dan banyak diminati oleh kalangan ahli tafsir. Sebagai contoh, Ibnu Katsir memberikan argumen tentang isu ini, ia menggunakan analogi sebuah bangunan bahwa bumi sebagai fondasi awalnya kemudian cakrawala atau langit sebagai atapnya. Ibnu Katsir juga menambahkan hanya Qatadah di antara para ulama mufassir terdahulu meyakini bahwa langit diciptakan dahulu sebelum bumi, bukan sebaliknya.

Oleh karenanya, ada dua pertanyaan yang muncul:

  1. Apakah makna kosmologis dari ayat tersebut?
  2. Apakah ayat tersebut bertentangan dengan ilmu pengetahuan modern?

Maka dalam artikel ini akan dijelaskan secara langsung terhadap dua pertanyaan tersebut. Meski sebenarnya ada banyak cara untuk menjelaskan tapi kami berusaha menjauhi dari argumen yang terlalu destruktif dan langsung menuju kepada pertanyaan dalam kerangka berfikir epistemologisnya.

Keberagaman Makna

Ketika seseorang terjebak dalam dilemma seperti yang disebutkan pada masalah diatas, maka ada banyak cara untuk menyelesaikannya menggunakan beberapa pendekatan. Saya mengajukan tiga tingkat pendekatan yang lebih mendekati kepada maksud yang sebenarnya dan masuk akal. Tiga pendekatan tersebut adalah:

  1. Pertimbangkan maksud sebenarnya dari ayat ini saat diturunkan, yaitu pada kondisi masyarakat Arab waktu itu, dimana Rasulullah SAW masih ada.
  2. Pertimbangkan lagi untuk fokus pada tafsiran ayat yang tidak bertentangan dengan ilmu pengetahun modern, jangan memaksakan diri melakukan sebaliknya.
  3. Tolaklah tafsiran mustahil dari suatu ayat yang bermaksud menentang ilmu pengetahuan modern.

Ini bukan bentuk pendekatan modern. Melainkan sudah dilakukan oleh para mufassir terdahulu, dan begitulah al-Qur’an difahami dari generasi ke generasi. Kali ini kita akan menggunakan ayat di atas sebagai studi kasus dalam menggunakan pendekatan ini.

Konteks Argumentatif

Untuk memahami ayat di atas, kita perlu memahami konteks saat ayat ini diturunkan pada zamannya. Surat Fushilat ini dimulai dengan beberapa ayat sebagaimana berikut:

{ بَشِيراً (3) يَ ع لَمُونَْ لقَِو مْ  عَرَبيًِّا قُ ر آنًْ آيََّتهُُْ فُصِ لَتْ  كِتَابْ  (2) الرَّحِيمِْ الرَّحْ َنِْ مِنَْ تنَزيلْ  (1) حم  
ثَ رهُُمْ  فأََع رَضَْ وَنذَِيراً مَعُونَْ لَْ فَ هُمْ  أَك  عُونَْ مَِّا أَكِنَّةْ  فِْ قُ لُوبُ نَا وَقاَلُوا (4) يَس  وَق  رْ  آذَاننَِا وَفِْ إلِيَ هِْ تَد   
(5) عَامِلُونَْ إِن َّنَا فاَع مَلْ  حِجَابْ  وَبَ ي نِكَْ بَ ي نِنَا وَمِنْ   } 
  

Ha Mim. Diturunkan dari Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui, yang membawa berita gembira dan yang membawa peringatan, tetapi kebanyakan mereka berpaling (darinya); maka mereka tidak (mau) mendengarkan. Mereka berkata, "Hati kami berada dalam tutupan (yang menutupi) apa yang kamu seru kami kepadanya dan di telinga kami ada sumbatan dan antara kami dan kamu ada dinding, maka bekerjalah kamu; sesungghnya kami bekerja (pula).”

Ini adalah surat Makkiyyah (yang turun di kota Makkah) bermaksud menunjukkan kondisi masyarakat waktu itu yang acuh tak acuh dan tidak mau mengalah dan bahkan mengejek Nabi Muhammad SAW. Ketika Nabi Muhammad SAW mendekati mereka dengan ayat ini, mereka menanggapi dengan nada sarkastis dengan klaim merendahkan diri mereka bahwa mereka tuli dan tidak bisa mendapatkan petunjuk dari Nabi, jadi tiada gunanya ajakan Nabi.

Untuk menghadapi permusuhan inilah, Nabi Muhammad diberikan tiga langkah berurutan dari ayat al-Qur’an sebagai respon terhadapnya.

Katakanlah: "Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan yang Maha Esa, maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya. Dan kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan-Nya, (yaitu) orang-orang yang tidak menunaikan zakat dan mereka kafir akan adanya (kehidupan) akhirat. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, mereka mendapat pahala yang tiada putus-putusnya".

Pertama adalah penyampaian pesan islam dengan jelas dan cara yang tegas. Nabi Muhammad diminta Allah untuk menyampaikan kepada kaumnya bahwa dia adalah manusia biasa yang diberikan wahyu dari Allah SWT. Kemudian disebutkan dalam ayat tersebut antara yang tidak beriman dan yang beriman. Yang tidak beriman dikaitkan dengan kuatnya kehidupan duniawi sementara yang beriman dikaitakan dengan kehidupan akhirat dan kebahagiaan yang abadi.

Maka, ayat selanjutnya menjadi pokok permasalahan dalam artikel ini, yaitu:

Katakanlah: "Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada Yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu-sekutu bagi-Nya? (Yang bersifat) demikian itu adalah Rabb semesta alam". Dan dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)nya dalam empat masa. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya.

Ayat-ayat ini menyuguhkan kepada kita dasaran logis dan rasional untuk mengimani pesan Nabi Muhammad SAW. Ayat-ayat tersebut membenarkan retorika sebelumnya. Orang pagan Arab ditanya bagaimana mereka bisa menyembah benda mati daripada sesuatu yang menciptakan dunia ini. Mereka kemudian diajak untuk melihat kepada tanah yang mereka pijak dibawahnya dan langit di atas mereka, sehingga mereka terpesona dengan keindahannya dan sadar bahwa sesuatu zat yang menciptakannya pastilah indah dan luar biasa.

Dan akhirnya, panggilan emosional dibuat, karena orang-orang yang tidak beriman diingatkan Kembali kepada bangsa-bangsa terdahulu yang mengabaikan nabi mereka.

Tidak ada Pertentangan dengan Sains

Mengingat bahwa bagian Al-Quran yang dimaksud dalam pembahasan ini bukanlah sebuah diskusi tentang sains, maka bagian ini tidak akan—dan memang tidak seharusnya—ditujukan untuk mengafirmasi penemuan-penemuan saintis. Apa yang harusnya ditekankan adalah tidak bertentangan dengan fakta. Dengan kata lain, dalam pembahasan ini tidak diperlukan penjelasan fenomena kosmologi secara akurat, sebenarnya hal ini tidak biasa mengingat kepada konteksnya. Yang terpenting adalah tidak ada kekeliruan dengan fakta. Inilah prinsip sesungguhnya tidak ada pertentangan dengan sains.

Jika pemahaman keliru tentang ayat ini terus dibawa, maka ini menandai penyimpangan dari memahami al-qur’an dengan pendekatan al-iʿjāz al-ʿilmī [mukjizat ilmiah] yang sudah terlewat batas dan ayat-ayat harus dievaluasi tidak hanya untuk non-kontradiksi saja, tetapi juga untuk penegasan terhadap doktrin-doktrin ilmiah. Hal ini karena pendekatan ini mampu memberikan argumen bahwa wacana ilmiah modern telah banyak diramalkan dalam Al-Qur'an.

Dalam pendekatan ini, hal-hal yang perlu ditunjukkan dalam al-Qur’an adalah tidak bertentangan dengan fakta yang ada sekarang. Untuk mengafirmasi ini maka ada dua pertanyaan yang muncul:

  1. Apakah al-Qur’an mengklaim bahwa gunung lebih tua daripada matahari dan Bintang-bintang?
  2. Apakah al-Qur’an mengklaim bahwa bumi diciptakan lebih dahulu daripada alam semesta?

Sebenarnya jika kita melihat pada pembahasan diatas, maka munculnya kebingungan adalah karena tafsiran ayat ke-9 dari surat fushilat ini. Untuk itu mari kita coba untuk memperhatikan ulang dua ayat yang berkesinambungan berikut.

... (lanjutan pembahasan tafsir, kutipan mufassir: Al-Baidhawi, Abu Hayyan, Ibn Ashur, dsb.) ...

Terminologi yang tidak Tepat

Kita sudah memiliki solusi untuk perdebatan yang diajukan dalam artikel ini, karena kita dapat dengan sederhana mengatakan bahwa para mufasir terdahulu kurang berpengetahuan luas tentang kosmologi dan geologi, sehingga mereka salah menafsirkan ayat-ayat ini. Kita juga dapat menekankan bahwa ayat-ayat ini sangat kuat, karena tidak menantang pemahaman ilmiah pada masa mana pun dan tetap masuk akal saat ini seperti pada masa lampau—ambiguitas ini berarti tidak ada generasi Muslim yang kesulitan memahami ayat-ayat ini.

Namun, argumen semacam itu bahkan tidak diperlukan dalam kasus ayat-ayat ini ketika kita memahami bahasa Al-Qur'an dengan lebih baik. Kita memiliki kecenderungan bawaan untuk mensinkronisasi dan mengadopsi pembacaan kita terhadap teks apa pun. Dan meskipun ini merupakan produk sampingan dari sifat manusia kita, hal ini tetap merupakan sesuatu yang harus kita waspadai ketika mencoba bersikap objektif dan adil. Meskipun Al-Qur'an bersifat abadi dan ditujukan kepada semua orang, Al-Qur'an memiliki audiens utama yang jelas, dan kita tidak dapat mengabaikannya. Kita pun tidak ingin melakukannya, karena konteks tersebut sangat penting bagi pemahaman kita tentang Al-Qur'an.

Salah satu kesalahan yang sering dilakukan para polemis terhadap Islam adalah tidak menghargai penggunaan polisemi dalam Al-Qur'an. Dalam modernitas, bahasa seringkali lebih dihargai ketika semakin presisi. Kita jauh lebih menghargai definisi dan jargon yang tajam daripada yang akan dilakukan oleh pembaca pra-modern. Sepanjang sebagian besar sejarah, budaya sastra mengagungkan dan menyanjung polisemi sebagai tanda kefasihan dan kecakapan linguistik. Di dalam wilayah abu-abu bahasa terdapat banyak keindahan dan kekuatan retorika. Al-Qur'an mengungguli semua teks lainnya, dan ia kaya akan polisemi.

Contoh yang jelas dalam bagian yang dimaksud adalah kata 'yawm', yang digunakan dalam bentuk ganda (yaitu yawmayn) dan jamak (yaitu ayyām). Bagi pembaca modern, ketika sebuah diskusi kosmologis berlangsung, dan kata 'hari' digunakan, maknanya memiliki makna yang tepat dan terukur. Dalam Al-Quran, kata ‘hari’ memiliki definisi yang jauh lebih cair.

... (lanjutan argumen tentang interpretasi 'asam', 'langit', 'bumi', sampai kutipan Muhammad Tanthowi, dsb.) ...

Kesimpulan

Kami telah menunjukkan bahwa tujuan utama ayat-ayat awal dari Surat Fuṣṣilat bukanlah untuk memberikan penjelasan ilmiah atas fenomena alam. Hal ini penting untuk diingat, karena melupakan fakta ini dapat membuat seseorang menunggu penegasan ilmiah yang positif dan langsung yang sebenarnya tidak ada. Sebaliknya, ayat-ayat ini dengan kuat berargumen tentang keagungan dan kekuasaan Tuhan serta keindahan ciptaan-Nya. Mereka menyajikan akidah Islam kepada kaum politeis, dan menjelaskan melalui retorika rasional dan emosional perlunya manusia menyembah Tuhan.

Lebih lanjut, ayat-ayat ini telah terbukti tidak bertentangan dengan sains modern, terutama ketika kita menghargai beragamnya kemungkinan interpretasi kronologi di dalamnya, serta penggunaan bahasa yang tidak tepat (yaitu polisemi). Bahasa tersebut sepenuhnya konsisten baik secara internal (yaitu di bagian lain Al-Qur'an) maupun eksternal (yaitu dengan penggunaan bahasa normatif pada masa pra-modernitas). Penafsiran yang mustahil atas ayat-ayat ini dapat diabaikan ketika kita menyadari bahwa penafsiran yang mungkin tidak hanya ada, tetapi sepenuhnya normatif.

Oleh karena itu, perdebatan yang diajukan di awal artikel ini telah terjawab. Lebih lanjut, artikel ini berfungsi untuk menunjukkan betapa pentingnya keterlibatan yang lebih mendalam dengan Al-Qur'an dan tradisi tafsir. Keterlibatan semacam itu membutuhkan kerendahan hati, ketenangan, dan kejujuran akademis. Antagonisme yang membingungkan dan agresif justru akan jarang produktif.

Allah berfirman:

Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: "Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?". Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik.

(Dokumen asli dilengkapi dengan rujukan ayat dan catatan kaki sebagaimana tercantum pada sumber.)

Bagikan Artikel: